perbedaan-paralympic-tennis-dan-tenis-konvensional

Perbedaan Paralympic Tennis dan Tenis Konvensional. Paralympic tennis, atau tenis kursi roda, sering dibandingkan dengan tenis konvensional karena keduanya menggunakan lapangan, raket, dan bola yang sama. Namun, ada beberapa penyesuaian penting untuk mengakomodasi atlet penyandang disabilitas, terutama yang menggunakan kursi roda. Perbedaan ini membuat olahraga lebih inklusif tanpa mengurangi intensitas dan strategi. Di level internasional hingga akhir 2025, Paralympic tennis semakin menarik perhatian karena rally panjang dan skill tinggi atletnya. Memahami perbedaan ini membantu mengapresiasi ketangguhan pemain yang bersaing setara di Paralimpiade maupun Grand Slam. INFO CASINO

Perbedaan Lapangan dan Peralatan: Perbedaan Paralympic Tennis dan Tenis Konvensional

Lapangan Paralympic tennis identik dengan tenis konvensional: ukuran, garis batas, dan tinggi net sama persis. Raket dan bola juga tidak ada modifikasi khusus. Perbedaan utama terletak pada kursi roda yang menjadi “kaki” pemain. Kursi roda dirancang khusus dengan roda belakang miring untuk stabilitas tinggi, roda kecil depan untuk manuver cepat, serta anti-tip di belakang agar tidak terbalik saat gerakan ekstrem.

Atlet Quad bahkan boleh pakai kursi roda bertenaga listrik jika gangguan fungsi lengan parah. Raket kadang diikat ke tangan dengan strap untuk grip lebih aman. Di tenis konvensional, pemain bergerak dengan kaki, sementara di Paralympic tennis, dorongan kursi roda menghasilkan akselerasi dan putaran tajam yang setara atau bahkan lebih cepat di beberapa situasi.

Aturan Pantul Bola dan Servis: Perbedaan Paralympic Tennis dan Tenis Konvensional

Perbedaan paling mencolok adalah two-bounce rule: di Paralympic tennis, bola boleh memantul dua kali sebelum dikembalikan, asal pantulan pertama di dalam garis lapangan. Pantulan kedua bahkan boleh di luar batas, memberikan waktu ekstra untuk bergerak. Ini membuat rally lebih panjang dan defensif lebih kuat, berbeda dengan tenis konvensional yang hanya boleh satu pantul.

Atlet elite sering memilih satu pantul untuk serangan agresif, tapi opsi dua pantul tetap strategis saat bertahan. Servis juga mirip, tapi server boleh satu dorongan kursi roda sebelum memukul, dan bola harus dipukul sebelum pantul kedua. Aturan fault, let, dan out tetap sama, sehingga esensi permainan tidak hilang.

Klasifikasi Atlet dan Format Pertandingan

Paralympic tennis membagi atlet ke dalam kelas Open (gangguan kaki dengan lengan normal) dan Quad (gangguan kaki plus lengan atas). Open terpisah pria dan wanita, sementara Quad campuran gender. Ini berbeda dengan tenis konvensional yang hanya pisah gender tanpa klasifikasi impairment.

Format pertandingan hampir sama: best of three set, tie-break saat 6-6, dan doubles dengan aturan serupa. Namun, di Quad, adaptasi seperti raket terikat membuat pukulan lebih bergantung pada timing dan placement daripada power mentah. Klasifikasi ini memastikan persaingan adil, sesuatu yang tidak ada di tenis konvensional.

Kesimpulan

Perbedaan Paralympic tennis dengan tenis konvensional terutama pada two-bounce rule, penggunaan kursi roda khusus, dan sistem klasifikasi atlet untuk keadilan. Lapangan, skor, dan strategi dasar tetap sama, membuat olahraga ini mudah diikuti tapi penuh adaptasi cerdas. Di akhir 2025, perbedaan ini justru memperkaya dunia tenis, membuktikan bahwa inklusi tidak mengurangi kualitas kompetisi. Pada akhirnya, Paralympic tennis bukan versi “ringan”, tapi cabang sejati yang menampilkan skill, ketangguhan, dan inovasi di setiap rally.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *